Gayus dan Pajak
Desember 7th, 2010 by Ujang KijokPada saat ini, bila kita melihat, mendengar dan memikirkan sesuatu yang berbau “Pajak”, maka pikiran kita akan selalu mengkaitkan Pajak dengan Gayus. Tentu saja semua yang terkait dengan pajak akan dengan malu terkait dengan Gayus. Memalukan memang, sangat memalukan.
Penumpang kendaraan umum yang berhenti didepan halte Kantor Pajak akan diberitahu dengan teriakan “Gayus turun..Gayus turun”. Pegawai-pegawai Pajak akan menggunakan jas untuk menutupi ke”gayusan”nya dalam perjalanan pulang atau pergi ke kantor. Istri-istri pegawai Pajak bila ditanya apa kerja suaminya akan menjawab “Cuma kuli pak”, untuk menghindarkan adanya aroma Gayus. Anak-anak pegawai pajak untuk sementara diajarkan pulang dan pergi ke sekolah menggunakan angkot agar tidak terlihat Gayus dimata teman-teman mereka. Bahkan ada istilah ” Lama kerja tapi tidak kaya-kaya kerena kurang Gayus”.
Nah, kebijakan-kebijakan Gayusian masih juga ditetapkan Pemerintah tanpa malu-malu. Tanpa memperhitungkan ketersinggungan publik. Keinginan pemerintah DKI untuk menggayus Warteg-warteg menunjukkan bahwa tidak ada rasa sensitif terhadap kasus ini. Sementara publik dengan telanjang melihat bagaimana sepak terjang Gayus yang bahkan masih berGayus-ria meskipun dalam penjara, tanpa ada keputusan yang tegas dalam masalah ini. Uang-uang yang turun dari langit dan tiba-tiba masuk ke dalam rekeningpun tak bisa dideteksi, bahkan dalam jaman yang semodern ini. Pendek kata Virus G4U5 telah memasuki seluruh manusia yang menyentuh Gayus. Membuat para ahli hukum menjadi tolol, membuat para ahli ekonomi menjadi konyol dan membuat pejaba-pejabat menjadi seperti ongol-ongol yang bergoyang-goyang mengikuti irama dalang.
Masyarakat awam dengan pengetahuan hidup sederhana dibingungkan dengan proses hukum yang mahal dan berbelit-belit, proses penahanan yang bisa dibeli dan proses-proses lain yang memang dibuat kompleks untuk dapat diikuti dengan mudah. Pertanyaan-pertanyaan hakim diatur supaya tidak berujung pada mereka yang bersembunyi dibalik wajah Gayus.
Mengapa kasus ini terjadi? Sederhana sebabnya. Adanya kerumitan dalam proses pembayaran pajak. Jangankan perusahaan besar, bahkan pajak peroranganpun dibuat sulit. Untuk perusahaan, banyak hal-hal yang bisa dianggap kena pajak namun banyak juga yang menjadi Sunat bahkan Makruh tergantung kepada bagaimana petugas pajak memandangnya. Hal ini dengan sengaja tidak dibuat sederhana karena akan dibutuhkan petugas pajak untuk mengaminkan tentunya dengan imbalan.
Dan pembayar pajak yang selama ini menghidupi para pegawai negeri termasuk pegawai pajak, memberikan mereka kesejahteraan sehingga anak dan istri mereka dapat menikmati hidup lebih dari jutaan masyarakat pembayar pajak itu sendiri, tidak dapat mengetahui seberapa besar uang yang disetor ke negara. Pengembalian kelebihan pajak juga sangat sulit dan memakan biaya. Sederhananya, pembayar pajak tidak dapat mengikuti proses dengan transparan dalam pengelolaan pajak itu. Dan itu bukan hal yang kebetulan namun direkayasa sedemikan rupa untuk membingungkan para pembayar pajak.

Gayus
Cara mereka membuat kebingungan persis seperti penyamaran yang dipakai Gayus waktu berlibur ke Bali, jelas dan terang namun berbeda. Jelas itu Gayus namun sebuah wig yang tidak dapat digunakan untuk menutupi wajahnya masih juga disangkal bahwa itu bukan dia.
Sebaiknya pemerintah membersihkan Virus G4U5 dulu baru bercerita tentang pajak-pajak yang lain. Kecuali memang rasa malu itu sudah hilang.





