Hidup keterbukaan yang selama ini tidak pernah terjadi, terima kasih buat media-media yang berhasil masuk ke dalam rumah-rumah SUCI yang katanya milik RAKYAT. Sehingga dengan benar-benar telanjang kami bisa melihat dan menilai hal-hal yang nyata, terlepas hal itu bodoh-bodih pintar atau pintar-pintar bodoh.
Kalau pembahasan masalah teknis perbankan dan politik banyak yang geleng-geleng kepala karena pusing, saling berusaha memotong, saling maju untuk berbicara, dan memajukan pendapat dan cenderung bertahan dengan pendapatnya. Pertarungan menjadi sangat menarik karena media dengan terus-menerus membenamkan masalah tersebut dalam benak-benak pemirsa dan pembacanya.
Bahwa dalam menyimak semua permasalahan yang selama ini muncul dari kasus-kasus korupsi sampai kasus Century, tidak ada yang mampu memastikan apa yang menjadi pokok pemikiran para pembaca tersebut. Sehingga walaupun media dan para pakar berteriak bahwa kasus ini adalah masalah hukum dan politik, namun aku percaya bahwa ada yang mulai berpikiran bahwa kasus-kasus ini disebabkan oleh ETNIS tertentu.
ETNIS ini selalu muncul dalam setiap kasus korupsi dan selalu menjadi pengambil keputusan dibelakang pengambil keputusan riil yang dinamakan birokrat. Keputusan-keputusan tersebut dibayar dengan mahal, walaupun dengan perhitungan bisnis, keuntungan-keuntungan yang didapat jauh lebih menggiurkan. Tanpa disadari ETNIS tersebut yang bersembunyi dibalik benteng-benteng kekuasaan mengumpulkan uang anak-anak negeri dan melarikannya ke luar negeri. Dan perilaku ini sudah umum terjadi dan dengan mudah dibaca, hanya saja tak seorangpun mampu menahan karena mereka mengatur para PENGATUR NEGERI. Dan hal ini berlangsung berpuluh tahun lamanya.
Dalam kasus Century, alasan-alasan krisis, dan alasan apapun lainnya sangat tidak berarti dibandingkan dengan apa sebenarnya yang ada dibalik itu semua. Disaat DPR bertempur dan berusaha mengorek apa yang ada dibalik kasus ini, sangat mungkin ada orang-orang yang menertawakan sandiwara tersebut. Mereka tahu benar kelemahan-kelemanan birokrasi di negeri ini dan siap melahap semua uang anak negeri.
Percuma kita bertengkar antara sesama kita dan mengorbankan orang-orang yang terbaik yang mungkin kita miliki bila kita berpikir buat bangsa ini, disaat mereka dengan ongkang-ongkang kaki membongkar pundi-pundi uang yang dengan susah payah dikumpulkan oleh bangsa ini apapun namanya uang tersebut. Lalu mereka pergi dan menikmati uang tersebut di luar negeri tanpa bisa dicapai oleh tangan-tangan rapuh hukum kita.
Kelakuan buruk segelintir ETNIS tersebut sangat membahayakan sebagian besar dari mereka yang benar-benar hidup dalam kesedarhaan. Mereka yang kecil-kecil sangat rentan dan tidak berdaya terhadap sikap sinis masyarakat dan bisa menjadi target-target marginalisas bahkan menjadi korban apabila kejengkelan masyarakat meledak kembali seperti sebuah sesaji perubahan.
Untuk itu sebaiknya, kumpulan atau organisasi ETNIS tertentu tersebut mengantisipasi dengan memberikan pernyataan-pernyataan untuk mengklarifikasi, atau bahkan bertindak atas nama bangsa ini untuk membantu menjernihkan persoalan, dari pada bersembunyi dan membiarkan bagian-bagian kecil dari mereka menjadi abu. Hal ini juga menjadi perhatian pemimpin negeri dengan sedapat mungkin mengambil tindakan yang sama tegasnya atau bahkan lebih tegas terdahap kasus-kasus yang terjadi dan bukannya sebaliknya.
Semoga bermanfaat bagi Indonesiaku.
Posted in 1 | Tagged Century | No Comments »

